Indigenous Cattle of Indonesia: Sapi Pesisir

Asal-Usul dan Ciri Khas Sapi Pesisir

Asal-Usul Sapi Pesisir

Sapi pesisir merupakan merupakan rumpun sapi lokal yang daerah penyebarannya di propinsi Sumatera Barat. Sapi lokal ini diduga merupakan keturunan banteng yang tersisa dan mula-mula berkembang di kabupaten Pesisir Selatan. Oleh karenanya dikenal dengan sebutan sapi pesisir. Saat ini, sapi pesisir mengalami penyebaran hingga banyak ditemukan di kabupaten Padang Pariaman dan Agam. Di daerah tersebut, sapi ini terkenal juga dengan nama lokalnya. Jawi ratuih atau bantiang ratuih, begitulah masyarakat menyebutnya. Artinya, sapi yang melahirkan banyak anak.

 

Pada umumnya, sapi pesisir tidak dikandangkan secara khusus, namun dipelihara secara bebas (berkeliaran) dan masih sangat sedikit perhatian peternak dalam pemeliharaannya. Sapi pesisir mampu menyesuaikan diri dengan keadaan pesisir pantai yang keadaan pakan hijauannnya terbatas. Meski demikian, hal ini tidak mengurangi peranan pentingnnya sebagai sumber daging bagi masyarakat di kota Padang. Berdasarkan banyak tulisan, sapi yang dipotong di rumah potong hewan kota Padang kebanyakan adalah sapi pesisir. Selain itu, sapi pesisir merupakan ternak yang populer untuk kebutuhan hewan kurban pada hari raya Idul Adha.

Ciri Rumpun Sapi Pesisir

Keputusan Menteri Pertanian Nomor: 2908/Kpts/Ot.140/6/2011 menetapkan ciri-ciri sapi pesisir sebagai berikut:

1. Sifat kualitatif

a.  warna :

1) tubuh dominan : merah bata dengan variasi warna dari kekuningan, kecokelatan, sampai kehitaman;

2) kepala : bulu mata berwarna pirang;

3) garis punggung : cokelat kehitaman;

4) kaki : keputih-putihan;

5) ekor : rambut ekor berwarna hitam;

b.   bentuk tubuh : kecil, mempunyai gumba dan gelambir kecil;

c.   bentuk tanduk : kecil;

d.   bentuk telinga : kecil, mengarah ke samping.

2. Sifat kuantitatif (dewasa)

ukuran permukaan tubuh :

a) tinggi pundak : 99,9±4,9 cm (jantan) dan 99,2±3,3 cm (betina)

b) panjang badan : 112,2±9,8 cm (jantan) dan 109,4±6,7 cm (betina)

c) lingkar dada : 124,2±6,9 cm (jantan) dan 125,5±6,3 cm (betina)

d) bobot badan : 162,2±25,4 kg (jantan) dan 149,1±18,2 kg (betina)

e) persentase karkas : 49 – 60%

3. Sifat reproduksi

a) kesuburan induk : 65 – 70%

b) angka kelahiran : 70%

c) siklus berahi : 18 – 24 hari

d) lama bunting : 9 bulan

4. Sifat produksi

a) daya adaptasi : baik

b) kemampuan hidup : 85%

5. Daya tahan penyakit : cukup baik

Sapi pesisir memiliki bobot badan relatif kecil sehingga tergolong sapi mini. Sapi pesisir jantan dewasa (umur 4-6 tahun) memiliki bobot badan 186 kg, jauh lebih rendah dari bobot badan sapi bali (310 kg) dan sapi madura (248 kg). Dengan bobot badan yang kecil tersebut, sapi pesisir berpeluang dijadikan sebagai hewan kesayangan (fancy) bagi penggemar sapi mini. Sapi pesisir dikenal memiliki temperamen yang jinak sehingga lebih mudah dikendalikan dalam pemeliharaan.

Penampilan bobot badan yang kecil tersebut merupakan salah satu ciri khusus suatu bangsa sapi, sehingga dapat dikatakan bahwa sapi pesisir merupakan sapi khas Indonesia (terutama di Sumatera Barat). Sapi pesisir merupakan sumber daya genetik nasional yang perlu dikembangkan dan dilestarikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Subsribe

Name
Email *

Alexa Rank