Indegenous Cattle of Indonesia: Sapi Bali

Asal-Usul dan Ciri Sapi Bali

Asal-Usul Sapi Bali

Sapi bali merupakan sapi asli Indonesia. Sejak ratusan tahun lalu, sapi ini dipelihara dan dijinakan dari sapi liar. Menurut para ahli, beberapa ratus tahun lalu, di bumi nusantara ini hidup jenis sapi yang dikenal dengan sebutan banteng. Nama ilmiah banteng adalah bos bibos atau dikenal juga sebagai bos sondaicus atau bos javanicus. Sapi ini mempunyai tubuh yang besar, bobot sapi jantannya bisa mencapai 1 ton. Saat ini, karena jumlahnya semakin sedikit, pelestarian banteng dilakukan dengan menempatkan banteng untuk hidup liar di Taman Nasional Bali Barat, Taman Nasional Baluran dan Taman Nasional Ujung Kulon.

 

 

Tidak diketahui kapan persisnya banteng dijinakan. Keturunan sapi liar ini berhasil dijinakan dan dipelihara penduduk, dikenal sebagai sapi bali. Warna sapi bali mirip dengan warna banteng, namun karena proses penjinakan bertahun tahun menyebabkan ukuran dan bobot badan sapi bali menjadi lebih kecil dibandingkan ukuran tubuh nenek moyangnya banteng

Jauh sebelum maraknya impor sapi dari luar negeri, sapi bali mempunyai peranan penting sebagai penyedia pangan asal hewani daging dan memenuhi kebutuhan daging secara nasional selama bertahun-tahun. Usaha ternak sapi bali telah lama dilakukan oleh sebagian masyarakat Indonesia. Pola usaha ternak sapi bali adalah berupa usaha rakyat untuk menghasilkan bibit atau penggemukan maupun sebagai usaha sampingan dari usaha perkebunan dan tanaman pangan.

Sebagai ternak asli Indonesia, sapi bali telah mendapat perhatian khusus. Untuk pemurnian dan peningkatan kualitas serta mencegah kepunahan sapi bali, pada tahun 1976, pemerintah membuat kegiatan khusus bernama Proyek Pembibitan dan Pengembangan Sapi Bali. Pada tahun 1986, pemerintah membangun Pusat Pembibitan Pulukan di desa Pangyangan, Kecamatan Pekutatan, Kabupaten Jembrana. Pusat pembibitan ini merupakan tempat khusus untuk uji dan seleksi sapi bali. Saat ini, lembaga ini dikenal sebagai Balai Pembibitan Ternak Unggul Sapi Bali (BPTU Sapi Bali), suatu lembaga yang berkedudukan dibawah Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian.

Lalu, kenapa disebut sapi bali? Apakah ada hubungannya dengan pulau terkenal sebagai daerah pariwisata? Ya, memang benar. Mula-mula sapi ini hanya ditemui di pulau Bali saja, pulau yang terletak di sebelah timur pulau Jawa yang dikenal juga sebagai pulau dewata karena keindahan alamnya. Jadi, selain sebagai tujuan wisata para turis mancanegara, pulau Bali ini juga mempunyai kekayaan alam yang tak kalah penting, yaitu sapi bali.

Saat ini, sapi bali tidak hanyak ada di pulau bali, tapi telah tersebar hampir di seluruh daerah di Indonesia dengan konsentrasi penyebaran terutama di pulau Lombok, Sulawesi Selatan, Kalimantan, Nusa Tenggara Timur, Sumbawa, Timor Timur dan Lampung. Bahkan, berkat beberapa program pemerintah beberapa tahun lalu yang memnyebarkan sapi bali, propinsi Sulawesi Selatan saat ini dikenal mempunyai jumlah sapi bali yang cukup banyak.

Ciri Khas Sapi Bali

Lalu, apa yang membedakan sapi ini dengan sapi lainnya? Atau, ciri khas apa yang dimiliki sapi ini untuk membedakannya dari sapi lain? Anak-anak sapi dikenal dengan sebutan pedet. Dilihat dari warna kulitnya, sapi betina berwarna merah bata. Warna ini terus bertahan dari mulai pedet sampai dewasa.

sumber: http://ditjennak.pertanian.go.id/img_galeri/74615Bali%20Btn.jpg

Gambar Sapi Bali Betina

Pertumbuhan sapi jantan berbeda dengan sapi betina. Pada saat pedet, sapi jantan sama dengan sapi betina, yaitu berwarna merah bata. Namun, sekitar usia 12 -18 bulan, warna kulit sapi jantan berubah menjadi lebih gelap atau kehitaman.

Sumber: http://ditjennak.pertanian.go.id/img_galeri/704223Bali_Jtn.jpg

Gambar Sapi Bali Jantan

Tanda lain sapi bali adalah keempat kakinya berwarna putih. Jadi dari jauh, kelihatannya sapi ini seperti memakai kaus kaki putih pada kaki sampai lututnya. Tidak hanya kaki, kulit berwana putih terdapat pula pada kedua paha belakang, pantat dan bibirnya. Pada punggungnya selalu ditemukan bulu hitam membentuk garis (peternak mengenalnya sebagai garis belut) yang memanjang dari gumba hingga pangkal ekor.

Oh ya, sapi ini juga mempunyai dua tanduk hitam di kepalanya yang meruncing dan melengkung ke arah tengah. Baik jantan maupun betina tidak mempunyai ponok dan hanya bergelambir sedikit. Bila diamati, sapi bali mempunyai kaki yang pendek, sehingga lebih memiliki kemiripan dengan kerbau bila dibandingkan dengan sapi Eropa (Bos taurus) atau sapi India (Bos indicus).

Keunggulan dan Kelemahan Sapi Bali

Sebagai sapi asli pulau bali, sapi ini dikenal mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan pulau bali dan sekitarnya. Menurut para ahli, sapi bali mempunyai sifat genetik (sifat yang diwariskan pada keturunannya) berupa kemampuan beradaptasi, menyesuaikan diri terhadap daerah tropis yang panas maupun basah. Sapi bali juga tahan terhadap penyakit caplak. Berbeda dengan sapi-sapi impor dari luar negeri (daerah sub tropis) yang kurang mampu beradaptasi dengan lingkungan tropis di Indonesia.

Keunggulan lain sapi bali adalah mempunyai fertilitas (kesuburan) yang tinggi dengan angka kebuntingan dan angka kelahiran lebih dari 80%. Petani menyenangi sapi bali karena sapi ini selain potensial sebagai penghasil daging juga mempunyai kemampuan kerja yang baik jika digunakan untuk membantu pekerjaan petani di lahan pertanian

Namun demikian, ada pula kelemahan dari sapi bali. Sapi ini tidak tahan dengan virus jembrana (ramadewa) dan penyakit ingusan (Malignant Catarrhal Fever / MCF). Kedua jenis penyakit ini pernah menghebohkan, karena menimbulkan wabah nasional pada tahun 1970-an. Karena kedua penyakit ini, banyak sapi bali yang mengalami kematian. Tidak hanya di pulau Bali, tapi juga di propinsi Jawa Timur, Sumatera Selatan dan Lampung.

Penyakit jembrana diketahui disebabkan oleh virus dan hanya menyerang sapi bali saja. Salah satu gejala yang menyolok pada sapi-sapi yang terkena penyakit jembrana adalah ternak itu mengeluarkan keringat darah. Keringat tersebut encer, seperti air, berwarna merah darah jika masih segar dan menetes dari permukaan kulit melalui sepanjang rambut. Jika keringat menempel pada batang rambut maka akan terbentuk kerak berbintil-bintil dan tidak lepas jika diusap dengan tangan. Gejala ini biasanya terlihat sewaktu dan setelah demam, berlangsung sekitar 2 sampai 3 hari. Selama ini, untuk mencegah penyakit dilakukan dengan pemberian vaksin.

Penyakit MCF merupakan penyakit menular yang bersifat akut dan fatal pada ternak sapi. Penyakit ini sering didapati terjadi pada sapi bali yang dipelihara berdekatan dengan lingkungan pemeliharaan domba. Gejala yang sangat menyolok adalah keluarnya ingus yang hebat dari hidung disertai demam yang tinggi. Domba diduga menjadi ternak perantara penularan penyakit, tanpa menyebabkan domba terkena penyakitnya. Oleh karenanya, untuk mengatasi penyakit ini, sapi bali diusahakan dipelihara pada daerah yang tidak ada pemeliharaan domba atau jumlah populasi dombanya rendah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Subsribe

Name
Email *

Alexa Rank